Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Agustus 2010

Persiapan Ulama Salaf Jelang Ramadlan


Sejak bulan Rajab, sudah berkonstrasi ibadah, di bulan Sya’ban berkonsentrasi membaca al- Qur’an.

Jika di bulan Ramadlan para salaf mampu melakukan amalan-amalan “berat”, bagaimana persiapan mereka sebelum memasuki bulan suci ini? Ternyata para salaf sudah melakukan persiapan yang cukup maksimal. Ini bisa dilihat dari mujahadah mereka sebelum Ramadlan.

Habib bin Abi Tsabit mengatakan: “Bulan Sya’ban adalah bulan qura` (para pembaca al-Qur’an)”. Sehingga pada bulan itu, para salaf konsentrasi terhadap al-Qur’an. Salah satu di antara mereka adalah Amru bin Qais, ahli ibadah yang wafat tahun 41 Hijriyah ini. Ketika Sya’ban tiba, ia menutup tokonya dan tidak ada aktivitas yang ia lakukan selain membaca al-Qur’an.

Senin, 02 Agustus 2010

Bid'ah (dlalalah)

Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : "Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi SAW sebagaimana tersurat dalam Al Qur'an dan As-Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Qur'an dan As-Sunnah itulah agama dan apa yang menyeleweng dari Al Qur'an dan As-Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah. Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua :

Pertama : Bid`ah I'tiqad (bid`ah yang bersangkutan dengan keyakinan)
Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam kitab sunan :
"Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan".
Para shahabat bertanya : "Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : "Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku".

Kamis, 29 Juli 2010

Fenomena Bulan Ramadlan

Pertama, kebanyakan kaum Muslimin baru mengenal Allah SWT setelah datangnya bulan Ramadlan. Selama sebelas bulan mereka menjauhi al-Qur’an, menjauhi masjid, menjauhi kebaikan. Sebaliknya, malah mereka mendekati tempat-tempat kemungkaran dan melalaikan segala kewajiban.

Tatkala Ramadlan tiba, mereka lalu seolah-olah baru tersentak kaget. Mereka bersiap menyambut ramadlan dengan mendatangi masjid beramai-ramai, mereka seolah tenggalam dalam kekhusyu'an dan kesyahduan shaum di bulan Ramadlan. Mereka terlihat bersimpuh, merendahkan diri seolah-olah hendak menipu Allah.

Menyambut Ramadlan

Ramadlan akan segera tiba. Sebuah kesempatan istimewa, karena bukan saja bilangan umur kita kian bertambah, tapi juga belaian kasih Ar-Rahmaan akan menghampiri kita lagi.
Bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan. Rasulullah SAW menjelaskan, Ramadlan adalah penghulu (pemimpin) dari sebelas bulan yang lain. Hanya orang yang kenal keistimewaan Ramadlan saja yang akan suka cita bila Ramadlan akan tiba.

Sepatutnya kita harus mempersiapkan diri baik-baik untuk menyambutnya. Namun, Bagaimanakah caranya? Langkah-langkah berikut ini mungkin bisa membantu.

Istikharah Jodoh


Seringkali manusia dihadapkan pada berbagai pilihan. Entah dalam bidang apa saja. Bisa karir, sekolah, perguruan tinggi, dan mungkin juga jodoh. Nah, masalah jodoh biasanya hal yang paling banyak bikin orang bingung. Pasalnya, memang tidak gampang memilih jodoh. Jodoh merupakan pasangan seumur hidup, bahkan sampai akhirat. Salah-salah memilih jodoh, sama halnya cari petaka hidup.

Setidaknya hal itu sudah banyak contohnya. Baru seumur jagung pernikahan, biduk rumah tangga sudah retak. Bahkan pecah. Nauzubillah. Sesuai kata bijak, kalau bisa, menikah hanya sekali dalam seumur hidup.

Adab Berbicara

1. Kata-kata Yang Bermanfaat
Dalam kamus seorang Muslim, hanya ada dua pilihan ketika hendak bercakap dengan orang lain. Mengucapkan sesuatu yang baik atau memilih diam. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengaku beriman kepada Allah dan hari Pembalasan hendaknya ia berkata yang baik atau memilih diam.” (al-Bukhari).

2. Sedekah
“Setiap tulang itu memiliki kewajiban bersedekah setiap hari. Di antaranya, memberikan boncengan kepada orang lain di atas kendaraannya, membantu mengangkatkan barang orang lain ke atas tunggangannya, atau sepotong kalimat yang diucapkan dengan baik dan santun.” (al-Bukhari).
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian. Tampilkan semua postingan

Persiapan Ulama Salaf Jelang Ramadlan


Sejak bulan Rajab, sudah berkonstrasi ibadah, di bulan Sya’ban berkonsentrasi membaca al- Qur’an.

Jika di bulan Ramadlan para salaf mampu melakukan amalan-amalan “berat”, bagaimana persiapan mereka sebelum memasuki bulan suci ini? Ternyata para salaf sudah melakukan persiapan yang cukup maksimal. Ini bisa dilihat dari mujahadah mereka sebelum Ramadlan.

Habib bin Abi Tsabit mengatakan: “Bulan Sya’ban adalah bulan qura` (para pembaca al-Qur’an)”. Sehingga pada bulan itu, para salaf konsentrasi terhadap al-Qur’an. Salah satu di antara mereka adalah Amru bin Qais, ahli ibadah yang wafat tahun 41 Hijriyah ini. Ketika Sya’ban tiba, ia menutup tokonya dan tidak ada aktivitas yang ia lakukan selain membaca al-Qur’an.

Bid'ah (dlalalah)

Al-Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa`di rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : "Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi SAW sebagaimana tersurat dalam Al Qur'an dan As-Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Qur'an dan As-Sunnah itulah agama dan apa yang menyeleweng dari Al Qur'an dan As-Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah. Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua :

Pertama : Bid`ah I'tiqad (bid`ah yang bersangkutan dengan keyakinan)
Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam kitab sunan :
"Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan".
Para shahabat bertanya : "Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : "Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku".

Fenomena Bulan Ramadlan

Pertama, kebanyakan kaum Muslimin baru mengenal Allah SWT setelah datangnya bulan Ramadlan. Selama sebelas bulan mereka menjauhi al-Qur’an, menjauhi masjid, menjauhi kebaikan. Sebaliknya, malah mereka mendekati tempat-tempat kemungkaran dan melalaikan segala kewajiban.

Tatkala Ramadlan tiba, mereka lalu seolah-olah baru tersentak kaget. Mereka bersiap menyambut ramadlan dengan mendatangi masjid beramai-ramai, mereka seolah tenggalam dalam kekhusyu'an dan kesyahduan shaum di bulan Ramadlan. Mereka terlihat bersimpuh, merendahkan diri seolah-olah hendak menipu Allah.

Menyambut Ramadlan

Ramadlan akan segera tiba. Sebuah kesempatan istimewa, karena bukan saja bilangan umur kita kian bertambah, tapi juga belaian kasih Ar-Rahmaan akan menghampiri kita lagi.
Bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkahan. Rasulullah SAW menjelaskan, Ramadlan adalah penghulu (pemimpin) dari sebelas bulan yang lain. Hanya orang yang kenal keistimewaan Ramadlan saja yang akan suka cita bila Ramadlan akan tiba.

Sepatutnya kita harus mempersiapkan diri baik-baik untuk menyambutnya. Namun, Bagaimanakah caranya? Langkah-langkah berikut ini mungkin bisa membantu.

Istikharah Jodoh


Seringkali manusia dihadapkan pada berbagai pilihan. Entah dalam bidang apa saja. Bisa karir, sekolah, perguruan tinggi, dan mungkin juga jodoh. Nah, masalah jodoh biasanya hal yang paling banyak bikin orang bingung. Pasalnya, memang tidak gampang memilih jodoh. Jodoh merupakan pasangan seumur hidup, bahkan sampai akhirat. Salah-salah memilih jodoh, sama halnya cari petaka hidup.

Setidaknya hal itu sudah banyak contohnya. Baru seumur jagung pernikahan, biduk rumah tangga sudah retak. Bahkan pecah. Nauzubillah. Sesuai kata bijak, kalau bisa, menikah hanya sekali dalam seumur hidup.

Adab Berbicara

1. Kata-kata Yang Bermanfaat
Dalam kamus seorang Muslim, hanya ada dua pilihan ketika hendak bercakap dengan orang lain. Mengucapkan sesuatu yang baik atau memilih diam. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengaku beriman kepada Allah dan hari Pembalasan hendaknya ia berkata yang baik atau memilih diam.” (al-Bukhari).

2. Sedekah
“Setiap tulang itu memiliki kewajiban bersedekah setiap hari. Di antaranya, memberikan boncengan kepada orang lain di atas kendaraannya, membantu mengangkatkan barang orang lain ke atas tunggangannya, atau sepotong kalimat yang diucapkan dengan baik dan santun.” (al-Bukhari).